Sabtu, 07 April 2012

Total Factor Productivity (TFP)




“Total Factor Productivity (TFP) memainkan peranan penting dalam fluktuasi ekonomi, pertumbuhan ekonomi, dan perbedaan pendapatan perkapita antar negara”

Kalimat di atas ingin memberikan kesan bahwa ada hal yang menarik dalam mempelajari TFP. Ada peran yang begitu besar dari TFP dalam menjawab dinamika ekonomi yang sedang terjadi. Namun, studi-studi teoritis maupun empiris tentang TFP, terutama di Indonesia belum begitu banyak memberikan kontribusi.
Nah, pertanyaan mendasarnya apa sih sebenarnya TFP itu, bagaimana cara menghitungnya, dan kenapa TFP bisa mempunyai peranan yang begitu strategis??
Pertanyaan seperti itu juga muncul di benak saya ketika pertama kali mempelajari TFP. Memaknai TFP pada awalnya tidaklah mudah. Bukan hanya karena masih terbatasnya referensi yang membahas TFP secara gamblang dan mudah dicerna, tetapi juga karena adanya berbagai metode dengan konsep berbeda dalam mengukur TFP itu sendiri. Terlebih lagi, ternyata ada juga referensi yang membahas konsep TFP secara tidak berdasar dan menyesatkan. 
Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah TFP sama saja dengan efisiensi, apakah pengukuran TFP harus menggunakan data panel, kenapa ada banyak cara berbeda mengukur TFP lalu mana yang harus dipilih, bagaimana hubungan TFP dengan pertumbuhan ekonomi, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya terkadang akan membuat kita semakin bingung dan galau dalam menentukan pilihan serta melakukan studi lebih lanjut tentang TFP.

Untuk itulah tulisan ini mencoba merangkum berbagai hal tentang TFP yang telah penulis baca dari berbagai referensi. Kemudian mencoba menarik benang merah dari berbagai metode yang telah dikembangkan. Namun, tulisan ini belum membahas secara detail masing-masing metode tetapi masih berupa cakupan umum sebagai dasar untuk memahami TFP, cara mengukurnya, dan bagaimana peranannya dalam perekonomian.

***
Dasar pemikiran atau ide munculnya kajian tentang TFP kira-kira seperti ini. Misalnya ada 2 perusahaan roti, katakanlah perusahaan A dan B yang masing-masing menggunakan 3 input, yaitu bahan baku (M), tenaga kerja (L), dan modal (K). Jumlah roti (output) yang dihasilkan kita misalkan dengan Q. Suatu ketika perusahaan A menghasilkan Q=100 roti dengan menggunakan 2M, 4L, dan 9K. Sedangkan, perusahaan B dapat menghasilkan Q=150 roti dengan input yang sama, yaitu 2M, 4L, dan 9K. Lho,, kok bisa beda output yang dihasilkan, padahal input yang digunakan sama besar??
Jawabannya adalah karena ada hal lain yang menyebabkan perbedaan output tersebut, meskipun input yang digunakan sama, dan hal lain itulah yang dimaksud dengan TFP. Secara konsep, TFP didefinisikan sebagai porsi dari output yang tidak dapat dijelaskan oleh sejumlah input yang digunakan dalam produksi. TFP merupakan indikator umum yang digunakan untuk mengukur produktivitas, yaitu mencakup perbedaan teknologi, organisasi, restrukturisasi, managerial skill, dll. Untuk itulah, kenapa TFP dapat menjadi alat yang penting dalam menganalisis sumber pertumbuhan ekonomi, perbedaan perkapita antar negara, dsb. 

Metode yang digunakan untuk mengukur TFP telah banyak dikembangkan. Banyak pula perdebatan diantara para ahli tentang bagaimana cara terbaik untuk mengukur TFP, mulai dari yang sederhana sampai yang tingkat tinggi dengan menggunakan metode-metode ekonometrik. Pada tahun 1957, Solow mendekomposisikan pertumbuhan output menjadi pertumbuhan kapital, tenaga kerja, dan kemajuan teknologi dalam artikelnya yang berjudul “Technical Change and Aggregat Production Function”, dan mengajukan metode nilai residual Solow, yang kemudian digunakan secara luas untuk mengukur perkembangan teknologi dan sumber pertumbuhan output. 

Sebelum membahas metode-metode yang digunakan untuk mengukur TFP, terlebih dahulu perlu kita ketahui bahwa yang dimaksud sebagai TFP di berbagai literatur itu sebenarnya bisa jadi ada 2 kemungkinan yaitu TFPG (TFP Growth) atau TFP (tanpa embel2 growth). Nah, masalahnya kadang-kadang, baik TFP maupun TFPG sama-sama ditulis sebagai TFP. Truz, dimana bedanya?? Bedanya di jenis data yang digunakan. TFP (tanpa embel2 growth) bisa dihitung cukup dengan menggunakan data cross-section. Sedangkan TFPG karena mengukur pertumbuhan TFP maka memerlukan data yang diamati perkembangannya dari waktu ke waktu, misalnya data time series atau data panel.
Jadi, ketika mengukur TFP kita liat dulu. Kalau kita cuma punya data cross-section maka yang bisa dihitung adalah TFP cross-section. Dengan begitu, gunakanlah metode-metode yang bisa menghitung TFP cross-section. Sedangkan, jika tersedia data time series atau data panel maka  dapat diperoleh nilai TFPG. Dengan begitu, dapat digunakan metode-metode yang bisa menghitung TFPG. TFPG inilah yang sering ditemui dalam penelitian karena memiliki dimensi yang lebih luas, misalnya dapat dihubungkan dengan pertumbuhan output sehingga dapat menjawab permasalahan kenapa pertumbuhan sektor tertentu mengalami penurunan, seberapa besar peranan TFPG terhadap pertumbuhan ekonomi, dsb.

TFPG dapat diuraikan menjadi tiga komponen, yaitu perubahan teknologi (technical change), perubahan efisiensi teknis (technical efficiency change), dan efek skala ekonomi (scale economic effects). Hubungan tersebut dapat kita gambarkan sebagai berikut:


Perubahan teknologi digambarkan sebagai pergeseran dalam fungsi produksi, yaitu dari TP1 ke TP2. Peningkatan efisiensi adalah pergerakan menuju fungsi produksi, dari titik A ke titik B. Skala ekonomi ditunjukkan sebagai pergerakan sepanjang fungsi produksi menuju skala optimal di titik C dimana produktivitas maksimum dapat diperoleh. 

Secara umum, metode pengukuran TFP dapat dikelompokkan kedalam dua pendekatan utama, yaitu metode konvensional (non-frontier) dan metode non-konvensional (frontier). Kemudian, baik dalam pendekatan konvensional maupun frontier dapat diklasifikasikan lagi menjadi metode parametrik dan nonparametrik. Metode parametrik memerlukan bentuk fungsi yang spesifik (fungsi produksi) dan menggunakan teknik ekonometrik dalam mengestimasi fungsi produksi, sehingga memerlukan asumsi-asumsi tertentu dalam estimasinya. Sedangkan metode nonparametrik tidak memaksakan bentuk fungsi yang spesifik ataupun asumsi-asumsi yang kaku dalam menghitung TFP. Tabel berikut meringkas metode utama yang digunakan untuk mengukur TFP dan hubungannya dengan data yang diperlukan.

Pendekatan konvensional mengasumsikan bahwa output dihasilkan secara efisien penuh (fully efficient), sedangkan pendekatan frontier memperbolehkan output dihasilkan secara tidak efisien penuh (not fully efficient). Jadi, memutuskan apakah akan menggunakan pendekatan konvensional ataukah pendekatan frontier tergantung apakah proses produksi perusahaan berjalan secara fully efficient ataukah not fully efficient.
Permasalahan berikutnya adalah memilih antara metode parametrik ataukah metode nonparametrik. Metode parametrik mengestimasi TFP melalui fungsi produksi, sehingga kita harus menggunakan fungsi-fungsi produksi tertentu seperti fungsi produksi Cobb-Douglas (C-D), Transcendental Logaritmic (Translog), Constant Elasticity Subtitution (CES), dll. Fungsi produksi yang masih berbentuk fungsi matematis (deterministic) tersebut diubah dulu kedalam fungsi produksi yang berbentuk fungsi statistik (stochastic), yang artinya mengandung error. Ilustrasinya, kira-kira seperti ini.

Misalnya, kita menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas (C-D) dengan 2 input yaitu modal (K) dan tenaga kerja (L), sedangkan A adalah indeks teknologi konstan.



Prinsip dasar pengukuran TFP dengan menggunakan metode parametrik adalah dengan memanfaatkan nilai error dalam model regresi. Error dalam model regresi dapat mewakili pengaruh-pengaruh yang berasal dari luar atau yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel penjelas yang digunakan dalam model. Nah, karena TFP itu menjelaskan porsi dari output yang tidak dapat dijelaskan oleh sejumlah input yang digunakan dalam produksi, maka pengukuran TFP identik dengan pengukuran error. Nilai error tersebut pada aplikasinya tidak bisa diobservasi secara langsung karena nilai-nilai parameter fungsi produksi tidak diketahui. Namun, kita dapat mengestimasi nilai-nilai parameter tersebut dengan menggunakan berbagai metode estimasi seperti Ordinary Least Squares (OLS), Generalized Least Squares (GLS), Maximum Likelihood Estimators (MLE), Bayesian Estimators, dll. Alhasil, kita akan memperoleh nilai residual sebagai pendekatan untuk error. Nilai residual inilah yang akan digunakan untuk mengestimasi Total Factor Productivity (TFP). Yang perlu dicatat di sini adalah semua metode parametrik yang digunakan untuk mengukur TFP tersebut memerlukan asumsi-asumsi statistik tertentu agar diperoleh hasil pengukuran TFP yang sesuai.

Sedangkan, dalam metode nonparametrik tidak diperlukan bentuk fungsi spesifik atau asumsi-asumsi statistik tertentu dalam mengukur TFP. Prinsip dasarnya, TFP diperoleh dengan cara merasiokan antara output dengan input, sehingga dihasilkan nilai produktivitas. Metodenya macam-macam, mulai untuk kasus 1 input dan 1 output (1-1 case), M input-1 output (M-1 case), hingga kasus M input-N output (M-N case). Kasus 1-1 kita kenal juga dengan nama produktivitas parsial, misalnya produktivitas tenaga kerja yang diperoleh dengan cara merasiokan antara jumlah produksi dengan tenaga kerja. Untuk kasus M-1 (M-1 case), TFP dihitung dengan cara merasiokan antara output dengan input agregat. Input agregat merupakan kombinasi linear dari M input yang telah dikalikan dengan penimbangnya (weighting) masing-masing. Sedangkan, untuk kasus M-N (M-N cases), TFP diperoleh dengan cara merasiokan antara indeks kuantitas output dengan indeks kuantitas input. Indeks kuantitas yang digunakan untuk output maupun input bisa bermacam-macam, seperti Indeks Laspeyres, Indeks Paasche, Indeks Fisher, Indeks Tornqvist, dll. Yang perlu diperhatikan adalah jika kita menggunakan data nilai (dalam nilai mata uang), bukan data kuantitas (misalnya kilogram, buah, dll) maka kita harus memperhitungkan indeks harga yang sesuai sebelum menghitung TFP. Indeks harga tersebut dapat pula dihitung dengan menggunakan Indeks Laspeyres, Indeks Paasche, Indeks Fisher, Indeks Tornqvist, dll. Dalam metode nonparametrik terdapat beberapa metode yang menggunakan konsep berbeda (bukan rasio output terhadap input) dan hanya bisa diterapkan untuk menghitung TFP Growth (TFPG), seperti metode Growth Accounting (GA), Indeks Divisia, dan metode Data Envelopment Analysis (DEA) (Indeks Malmquist). Pembahasan lebih detail tentang penggunaan masing-masing metode akan dibahas pada tulisan berikutnya. Namun, setidaknya pembagian metode-metode tersebut dapat kita gambarkan pada diagram berikut:
Semoga Bermanfaat

1 komentar:

  1. mohon informasi, mengenai sumber yang menyatakan bahwa perhitungan TFP dengan metoda parametik adalah dengan nilai error nya.. terimkasih

    BalasHapus